|
|
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar di Dunia, maka tidak aneh kalau kelapa banyak dimanfaatkan sejak dahulu kala. Air kelapa tidak hanya bermanfaat untuk menghilangkan rasa haus, tetapi bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi berbagai masalah kesehatan. Manfaat yang begitu besar dari air kelapa disebabkan karena air kelapa mengandung banyak zat yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Dalam dunia medis pun, air kelapa banyak digunakan sebagai cairan, pengganti cairan tubuh.
Khasiat air kelapa yang bersifat alami ini tentunya lebih baik dibandingkan minuman pengganti cairan lainnya yang mengandung bahan sintetik. Ketika orang menderita sakit karena demam, diare, muntah atau terkena panas matahari yang berlebih maka akan terjadi dehidrasi. Hal ini akan menyebabkan tubuh banyak kehilangan kandungan air dan garam-garam elektrolit yang sangat diperlukan tubuh seperti sodium (natrium), potasium (kalium), kalsium, bikarbonat dan fosfat. Dalam hal dehidrasi ringan, disarankan dapat meminum elektrolit alami seperti air kelapa dan minuman elektrolit tubuh dan keseimbangan garam dalam tubuh. Bila sudah terlalu berat harus diatasi dengan intravenous (infus).
Karena seringnya masyarakat memanfaatkan air kelapa sebagai obat penurun demam (Antipiretik), dimana demam merupakan salah satu penyakit yang sering diderita oleh manusia yang juga merupakan gejala awal berbagai penyakit manusia (mursito, 2000)
Oleh karena itu untuk membuktikan kebenaran pengunaan Air kelapa sebagai Antipiretik (Penurun demam), maka perlu dilakukan penelitian ilmiah tentang “Uji efek antipiretik air kelapa hijau (Cocos nucifera. L), pada hewan coba kelinci”. Hal ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengunaan tanaman obat tradisional khususnya untuk penurunan demam.
B. Rumusan masalah
Apakah ada pengaruh air kelapa hijau terhadap kelinci dan seberapa besar efek antipiretik dari air kelapa hijau terhadap penurunan suhu tubuh kelinci ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk menguji dan menganalisis pengaruh air kelapa hijau dalam menurunkan demam terhadap hewan coba kelinci.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui efek antipiretik yang optimal dari air kelapa hijau terhadap kelinci.
b. Untuk mengetahui konsentrasi yang optimal dari air kelapa hijau terhadap penurunan suhu demam dari kelinci.
D. Ruang Lingkup
1. Penelitian ini hanya dibatasi pada efek antipiretik dari air kelapa hijau.
2. Penelitian ini hanya dibatasi pada uji terhadap kelinci.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Bagi Pendidikan
Sebagai informasi dan bahan referensi bagi peneliti lain mengenai manfaat air kelapa hijau.
2. Bagi Profesi
Menambah data ilmiah dan kegunaan air kelapa hijau sebagai salah satu obat tradisional.
3. Bagi Penelitian
Dapat mengetahui khasiat air kelapa hijau terhadap penurunan demam (Antipiretik).
4. Bagi Masyarakat
Dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang manfaat air kelapa hijau.
E. Hipotesis
Air kelapa hijau memberi efek antipiretik terhadap kelinci (Oryctolagus cuniculus).
BAB II
|
|
A. Tinjauan Umum Kelapa (Cocos nucifera. L)
1. Morfologi Kelapa Hijau
Kelapa (Cocos nucifera. L) adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan atau Arecaceae dan anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna, khususnya bagi masyarakat pesisir (suhardin p. 1994).
Pohon dengan batang tunggal, Akar serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunya kurang baik digunakan untuk bangunan. Daun tersusun secara majemuk, menyirip sejajar tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna daun hijau kekuningan. Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh braktea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal. Buah besar, diameter 10 cm sampai 20 cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun dari mesokarp berupa serat yang berlignin, disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok) dan kedap air; endokarp melindungi biji yang hanya dilindungi oleh membran yang melekat pada sisi dalam endokarp. Endospermium berupa cairan yang mengandung banyak enzim, dan fase padatannya mengendap pada dinding endokarp ketika buah menua; embrio kecil dan baru membesar ketika buah siap untuk berkecambah disebut kentos (http://id.wikipedia .org/wiki/kelapa).
Tanaman ini tumbuh pada dataran rendah maupun tinggi, banyak ditemukan di daerah pantai, halaman, maupun sebagai tanaman perkebunan. Perbanyakan dapat dilakukan dengan buah yang telah tua (Mursito, 2000)
2. Klasifikasi Kelapa (Cocos nucifera. L) (P. Suhardiman, 1994)
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Klas : Monocotyledoneae
Ordo : Palmales
Familia : Palmae
Genus : Cocos
Species : Cocos nucifera. L
3. Nama daerah (Santoso, 1998)
Tanaman kelapa memiliki nama yang berbeda di setiap daerah. Oleh karena itu, tanaman ini memiliki nama ilmiah untuk menyamakan persepsi orang dari daerah yang berbeda. Nama-nama tersebut antara lain :
1. Sumatra : bugong raja (Aceh), bunga-bunga (Karo), soma-soma
(Nias), bekeyu (Mentawai).
2. Jawa : kembang wera (Sunda), wora-wari (Jawa), bungo rabhang
(Madura), bandhaleka (Kangean).
3. Nusa Tenggara : pucuk waribang (Bali).
4. Sulawesi : kaluku (Tolaki), amburanga (Talaut), embu hanga
(Sangir), wunganga (Bantam), ulanga (Gorontalo),
kulango (Buol), kuranga (Baree), bunga capatu
(Makasar), bunga bisu (Bugis).
5. Maluku : letaw (Kai), fua-fua (Seram), ubo-ubo (Ternate dan
Halmahera)
6. Irian Jaya : di oh (Sarmi), gerasa (Awiya).
4. Sifat dan Khasiat
Buah yang nama botaninya adalah Cocos nucifera ini dikenal dengan nama "Wonder Food". Disebut demikian karena banyak kandungan nutrisi di dalam buah kelapa yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Di beberapa daerah di tanah air, kelapa merupakan buah yang sakral bahkan cenderung "magis" karena perannya yang sangat penting dalam berbagai ritual keagamaan dan seremonia adat. Dalam mitologi Hindu, kelapa disebut sebagai Tree of Heaven karena kelapa dipercaya dapat membawa kekuatan, kesehatan, umur yang panjang, dan kedamaian.
Kandungan mineral alami dan protein berkualitas tinggi di dalam kelapa sangat baik untuk pertumbuhan dan perbaikan sel-sel dalam tubuh. Airnya dikenal sebagai air mineral dan merupakan minuman penyegar. Kandungan gula yang terdapat pada air kelapa mudah diserap oleh tubuh. Air kelapa merupakan tonik yang sangat baik untuk kesehatan. Air yang terdapat dalam satu buah kelapa cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan vitamin C dalam sehari (Agus azwar, 2010).
Seperti yang kita ketahui, walau kandungan nutrisi yang dikandung air kelapa cukup tinggi namun bersifat isotonik. Secara alami, air kelapa muda memiliki komposisi mineral dan gula yang sempurna sehingga punya kesetimbangan elektrolit yang sempurna pula, sama halnya dengan cairan tubuh manusia. Itu sebabnya mengapa air kelapa dapat digunakan sebagai pengganti cairan infus. Mengingat komposisi mineral yang dikandungnya, air kelapa mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai minuman isotonik alami. Kita ingat, orang tua kita dulu sering memberi kelapa muda ketika menderita demam atau campak. Mereka yakin air kelapa mampu menurunkan panas dalam. Ketika demam, air kelapa dan air putih diminum secara berselang seling untuk mengurangi panas dan rasa sakit.
Minum air kelapa muda dan memakan dagingnya dapat meredakan kegerahan, mulut kering, demam dengan kehausan, serta penyakit diabetes. Selain itu, minum air kelapa muda dipercaya membuang racun dalam darah. Namun perlu diperhatikan, terlalu banyak minum air kelapa muda menyebabkan sedikit rasa lemas sementara. Bagi yang memiliki gangguan pada tulang, disarankan tidak mengonsumsi air kelapa berlebihan (Mursito.B, 2000).
Air kelapa juga dikenal sebagai obat tradisional kuno yang sangat efektif dalam membasmi berbagai jenis cacing merugikan di dalam usus. Juga sangat baik diminum di pagi hari sebelum mengonsumsi makanan lainnya. Hal itu sangat dianjurkan dilakukan bagi penderita gastritis atau hyperacidity.
Di samping itu, air kelapa sangat bermanfaat dalam pengobatan colitis, luka dalam lambung, diare, disentri, dan wasir. Air kelapa dapat pula mengatasi kerusakan sistem saluran cerna seperti mengurangi gas dalam lambung, mual-mual, dan salah cerna. Bila ditambah madu, sangat baik untuk diminum menjelang tidur bagi yang kesal dengan batuk kering yang diderita (Hakimah, 2010).
Bagi penderita kolera, campuran jus jeruk nipis dan air kelapa sangat membantu untuk penyembuhan. Manfaat lain, diketahui air kelapa bersifat diuretik sehingga cocok untuk mengobati kerusakan saluran kemih, seperti sering kencing, albuminuria, serta membantu dalam penghancuran batu di saluran kemih maupun ginjal.
Dari beberapa penelitian, ternyata air kelapa juga dapat digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba, misalnya Acetobocter xylinum untuk produksi nata de coco. Bahkan, saat ini dikembangkan pembuatan minuman berenergi dari air kelapa sebagai alternatif dari sekian banyak minuman energi di pasaran. (http://www.smallcrab.com / kesehatan/204-air-kelapa-segar-dan-sarat-khasiat-)
Dari sekian banyak manfaat air kelapa, kiranya tidak berlebihan bilamana "air ajaib" ini senantiasa menyemarakkan acara berbuka puasa kita. Menyegarkan dan menyehatkan tentunya, tumbuhan ini memiliki sifat khas yaitu menyegarkan. Adapun khasiatnya yaitu menambah cairan dan mineral sebagai oralit, penawar racun (Antidotum), untuk menurunkan panas (Antipiretik), dan daging buah kelapa sebagai panambah nafsu makan (Santoso, 1998).
5. Kandungan kimia
Air kelapa memiliki karakteristik cita rasa yang khas. Di samping itu, air kelapa juga punya kandungan gizi, terutama mineral yang sangat baik untuk tubuh manusia. Kandungan yang terdapat dalam air kelapa tidak hanya unsur makro, tetapi juga unsur mikro. Unsur makro yang terdapat adalah karbon dan nitrogen. Unsur karbon dalam air kelapa berupa karbohidrat
sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, dan inositol. Unsur nitrogen berupa protein yang tersusun dari asam amino, seperti alin, arginin, alanin, sistin, dan serin. Sebagai gambaran, kadar asam amino air kelapa lebih tinggi ketimbang asam amino dalam susu sapi.
Selain karbohidrat dan protein, air kelapa juga mengandung unsur mikro berupa mineral yang dibutuhkan tubuh. Mineral tersebut di antaranya kalium (K), natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S). Yang cukup mencengangkan, dalam air kelapa juga ditemukan berbagai vitamin. Sebut saja vitamin C dan berbagai asam seperti, asam nikotinat, asam pantotenat, dan asam folat. Vitamin B kompleks yang dikandungnya antara lain niacin, riboflavin, dan thiamin. (http://www.smallcrab.com/kesehatan/204-air-kelapa-segar-dan-sarat-khasiat-)
Air kelapa hijau mengandung tanin atau antidotum (antiracun) lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelapa lain. Pada umumnya, air kelapa mengandung asam askorbat, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, atau potassium. Kandungan mineral pada air kelapa antara lain zat besi, fosfor, dan gula yang terdiri atas glukosa, sukrosa, dan fruktosa (Santoso, 1998).
6. Bagian yang digunakan
Air kelapa dan akar banyak digunakan sebagai obat penurun panas (antipiretik), nyeri menjelang haid, dan mengobati gatal-gatal karena alergi cuaca. Sebagai obat luar, air kelapa banyak dimanfaatkan untuk menyuburkan atau mencegah rambut terlalu cepat beruban. Daging buah dapat digunakan untuk obat cacing kremi (Santoso, 1998).
B. Tinjauan Hewan Uji Kelinci (Oryctolagus cuniculus)
1. Anatomi Kelinci
Kelinci berpunggung melengkung dan berekor pendek. Kepalanya kecil dan daun telinga tegak. Kelinci memiliki bibir yang bagian atasnya terbelah dan tersambung hingga hidung. Telinga kelinci besar dan banyak terdapat darah. Oleh karena itu, jika membawa Kelinci diusahakan jangan memegang telinganya, karena akan kesakitan. Kaki belakang kelinci lebih panjang dan kuat dibandingkan dengan kaki depannya.
Sebagai hewan karnivora, kelinci menyukai makanan berupa rumput-rumputan yang hijau dan segar. Gigi kelinci tergolong unik, sebab gigi akan terus tumbuh sepanjang usia. Apabila tidak dibatasi maka gigi akan semakin panjang, dengan cara disediakan makanan yang keras dan sepotong kayu sebagai sarana untuk mengasah gigi dan kukunya, di alam kelinci hidup secara bebas dan sebaliknya diberikan ruang gerak yang memadai (Hustamin, 2006).
2. Klasifikasi Kelinci (Sarwono, 1990)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Logomorpha
Famili : Leporidae
Genus : Oryctolagus
Spesies : Oryctolagus cuniculus
3. Karakteristik Kelinci (Biriloute, 1975)
Masa puberitas : 4 bulan
Lama hamil : 28 – 36 hari
Jumlah satu kali lahir : 5 – 6 ekor
Lama hidup : 8 tahun
Masa tumbuh : 4 – 6 bulan
Suhu tubuh ideal : 37,0º C
Volume darah : 5 b/b %
Frekuensi kelahiran : 3 – 4 kali pertahun
Kecepatan respirasi : 50 - 60
Luas permukaan tubuh : K = 12,89 G = 68
Monosit : 2-16%
Eosinofil : 0,5-5,0%
Trombosit : 250-750 x 10/mm
Hb : 8-17 g/100 mL
Protein plasma : 5,0-8,0 g/100 mL
Kolesterol serum : 10-80 mg/100 mL
Air kencing : 50-90 mL/Kg/hari, kental, kuning
Susu : Air 73-74%, lemak 13%, protein 12-12,5%.
Plasenta : Diskoidal hemoendotelial
Kromosom : 2n=44
C. Tinjauan tentang Demam
1. Definisi Demam dan Suhu Tubuh Ideal
Demam adalah suatu gejala yang paling dominan dari suatu penyakit dan paling umum dikenal, yang merupakan suatu reaksi tangkis yang berguna bagi tubuh terhadap infeksi. Gejala ini terjadi pula pada mamalia, burung, reptil, amphibi, dan ikan. Demam sering dihubungkan dengan proses infeksi dan inflamasi (Soeparman,1987).
Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5oC – 37,2oC. Suhu subnormal di bawah 36,5oC. Demam diartikan suhu tubuh di atas 37,2oC. Sedangkan hiperpireksia adalah suatu kenaikan suhu tubuh sampai setinggi 41,2oC atau lebih, sedangkan hipotermia adalah keadaan suhu tubuh di bawah 35oC.
Suhu tubuh kita dapat diukur dengan alat yang disebut termometer. Alat ini biasanya terbuat dari kaca yang berisi air raksa dan mempunyai angka-angka dari 35 oC sampai 42oC, dengan angka 37 oC berwarna merah (suhu normal seseorang). Sekarang ada bermacam-macam jenis termometer. Ada yang dengan sistem digital dan lain-lain, namun yang sering digunakan dan murah harganya adalah yang terbuat dari kaca yang berisi air raksa. Termometer dapat digunakan pada beberapa bagian tubuh, yaitu di mulut, di dubur dan di ketiak (Haryanto, 1991).
2. Mekanisme Terjadinya Demam
Demam diawali dengan masuknya zat toksin (mikroorganisme) kedalam tubuh kita. Mikroorganisme (MO) yang masuk ke dalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen. Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya dengan memerintahkan tentara pertahanan tubuh antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). Dengan adanya proses fagositosit ini, tentara-tentara tubuh itu akan mengeluarkan senjata, berupa zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat dapat keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin dibantu oleh enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus. Sebagai kompensasinya, hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini dikarenakan termostat tubuh (hipotalamus) merasa bahwa suhu tubuh sekarang di bawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ( pergerakan otot rangka) ini ditujukan untuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Dan terjadilah demam. (Ref : Fisiologi Sheerwood)
D. Tinjauan tentang Antipiretik
1. Definisi Antipiretik
Antipiretik adalah suatu senyawa yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuh. Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007).
Analgetik merupakan obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kebanyakan analgetik juga memberi efek antipiretik. analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Contohnya seperti Acetaminophen (paracetamol), Acetocal (aspirin), Methampyron (novalgin) dan Glapheninum (Yahya, 1993).
2. Mekanisme Kerja Antipiretik
Pada keadaan demam keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat mirip aspirin. Peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik diawali oleh pelepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti interleukin-1 (IL-1) yang memacu pelepasan prostaglandin (PG) yang berlebihan di daerah preoptik hipotalamus. Obat mirip aspirin menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesis PG (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 1995).
E. Penggolongan obat antipiretik
Obat antipiretik dapat dibagi dalam beberapa golongan (Djamhuri, 1990) yaitu :
1. Golongan salisilat
a. Asetosal
b. Salisilamid
2. Golongan para-aminofenol
a. Paracetamol
b. Fenasetin
3. Golongan Pirazolon
a. Antalgin (Methampyron)
b. Dipiron
c. Metamizol
4. Golongan asam ( jarang digunakan sebagai antipiretik )
a. Indometasin
b. Fenoprofen
c. Ibuprofen
F. Tinjauan Umum Paracetamol
1. Uraian Kimia (Anonim,1995)
Rumus kimia : C8H9NO2
Rumus bangun :
OH NHCOCH3
Berat Molekul : 151,16
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N, mudah larut dalam etanol.
Khasiat : Analgetik/antipiretik
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
2. Indikasi
Nyeri ringan sampai sedang (termasuk sakit kepala, mialgia, keluhan sesudah imunisasi, dan keluhan sesudah tonsilektomi), serta menurunkan demam yang menyertai infeksi bakteri dan virus (Hardjasaputra P. dkk, 2002)
3. Farmakodinamik
Efek analgetik paracetamol dan fenasetin serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu paracetamol dan fenasetin tidak digunakan sebagai antireumatik. Paracetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, eritrosis, pendarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan pernapasan (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 1995).
4. Farmakokinetik
Parasetamol diabsorpsi secara cepat dan sempurna oleh saluran cerna pada pemberian oral dan terdistribusi ke banyak jaringan tubuh. Sekitar 25 % parasetamol di dalam darah terikat pada protein plasma. Dimetabolisme oleh sistem mikrosomal di dalam liver. Sekitar 80-85 % parasetamol di dalam tubuh mengalami konjugasi terutama dengan asam glukuronat dan dengan asam sulfat. Parasetamol diekskresikan lewat urine kira-kira sebanyak 85 % dalam bentuk bebas dan terkonjugasi (Sukandar, 2008).
5. Efek samping
Reaksi alergi terhadap derivat paraaminofenol jarang terjadi. Manifestasinya berupa eritem atau urtikaria dan gejala lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa. Satu serangan asma pada pasien yang peka terhadap asam asetilsalisilat. Mual, muntah sakit perut adalah tidak lazim. Nekrose hati pada kelebihan dosis yaitu dosis 6 – 12 gram sudah dapat merusak hati secara fatal (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 1995).
G. Tinjauan tentang vaksin
Vaksin merupakan suatu fase cairan biakan yang di dalamnya mengandung pelepasan dari biakan jaringan yang diinokulasikan dengan virus yang bereplakasi di dalam sel.
Reaksi vaksinasi setelah disuntikkan cukup sering menimbulkan iritabilitas, demam ringan, dan malaise bersama beberapa pembengkakan lokal pada tempat suntikan selama 48 jam setelah penyuntikan.
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.
DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.
Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut:
1. Demam tinggi (lebih dari 40,5° C)
2. Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
3. Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).
(Dick george : 1995).
BAB III
|
|
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam “UJI EFEK ANTIPIRETIK AIR KELAPA HIJAU (Cocos nucifera. L) PADA HEWAN COBA KELINCI”. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan dengan satu kontrol dan tiga pengulangan yang dilambangkan sebagai berikut :
Tabel 1. Data Umum Perlakuan
| No | Treatment | Replikasi | Post test | ||||
| 1 | A1 | X1 | Y1 | Z1 | A1X1 | A1Y1 | A1Z1 |
| 2 | A2 | X2 | Y2 | Z2 | A2X2 | A2Y2 | A2Z2 |
| 3 | A3 | X3 | Y3 | Z3 | A3X3 | A3Y3 | A3Z3 |
| 4 | A4 | X4 | Y4 | Z4 | A4X4 | A4Y4 | A4Z4 |
Keterangan:
A1 : Suspensi Parasetamol (pembanding/kontrol)
A2 : konsentrasi air kelapa muda 10 % v/v
A3 : konsentrasi air kelapa muda 50 % v/v
A4 : konsentrasi air kelapa muda 100 % v/v
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah tanaman kelapa yang berada di Kecamatan Mandonga. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah air kelapa yang diambil di Kecamatan Mandonga. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Sampel digunakan dengan berbagai konsentrasi.
D. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, variabel dibagi menjadi dua yaitu:
1. Variabel bebas : Air kelapa hijau.
2. Variabel terikat : Kelinci.
E. Kerangka Konsepsional
| Hewan Coba Kelinci |
| Air Kelapa Hijau |
Gambar 1. Kerangka Konsepsional
Keterangan : Air kelapa Hijau = Variabel Kontrol
Hewan Coba Kelinci = Variabel Terikat
F. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan variabel maka dikemukakan definisi operasional variabel sebagai berikut :
1. Air kelapa hijau merupakan salah satu bahan yang akan digunakan dalam penurunan demam, terhadap hewan coba kelinci.
2. Antipiretik adalah suatu senyawa yang digunakan untuk menurunkan demam (suhu tubuh) ke suhu tubuh normal (36,5-37,2).
3. Kelinci merupakan hewan yang digunakan untuk uji efek antipiretik air kelapa hijau.
G. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada 20 Juni 2011 bertempat di Laboratorium Farmakologi Akademi Farmasi Bina Husada Kendari, Sulawesi Tenggara.
H. Alat dan Bahan Penelitian
1. Alat
a. Batang pengaduk
b. Gelas ukur (pyrex)
c. Hot plate
d. Kateter no. 24
e. Lumpang dan Stamper
f. Stop Watch
g. Spoit oral 1 cc, 5 cc dan 10 cc
h. Termometer Rectal (Infrared tympanic)
i. Timbangan Digital
j. Timbangan Analitik
2. Bahan
a. Air Suling
b. Air Kelapa Hijau
c. Kelinci
d. Kertas perkamen
e. Na. CMC
f. Parasetamol 500 mg
g. Vaksin DPT
I. Prosedur Penelitian
1. Penyiapan Bahan
a. Penyiapan Air Kelapa Hijau
1) Di ambil kelapa yang masih muda
2) Kemudian dibelah kelapa untuk diambil airnya
3) Disiapkan air kelapa dengan dengan konsentrasi 10%, 50% dan 100% dengan membuat pengenceran sebagai berikut :
Ø Air kelapa 10% v/v, dipipet 5 mL air kelapa di cukupkan hingga 50 ml dengan aquadest, campur hingga homogen
Ø Air kelapa 50% v/v, dipipet 25 mL air kelapa di cukupkan hingga 50 mL dengan aquadest, di campur hingga homogen
Ø Air kelapa 100% v/v digunakan air kelapa murni tanpa penambahan aquadest
b. Pembuatan Na. CMC 1%
1) Ditimbang Na. CMC sebanyak 1 gram.
2) Dilarutkan dengan sedikit air dan aduk sampai mengental
3) Ditambahkan air sampai 100 mL, dipanaskan diatas hot plate dan dibiarkan mendidih sampai larutan menjadi bening dan didinginkan.
2. Penyiapan Hewan Uji
a. Disiapka kelinci sebanyak 12 ekor
b. Dilakukan karantina hewan uji dan pemeriksaan tentang umur, kesehatan fisik dan layak tidak kelinci tersebut digunakan.
c. Dipuasakan kelinci yang layak dijadikan hewan uji selama 2 – 3 jam
d. Kemudian dilakukan penimbangan berat badan kelinci dan dicatat hasilnya.
3. Perlakuan Hewan Uji
a. Hewan uji kita kelompokkan menjadi empat kelompok dan tiga perlakuan kemudian diukur suhu awal dari masing-masing kelinci dengan menggunakan termometer rectal.
b. Disuntikkan 1 mL vaksin yang diencerkan dengan aquades yaitu 6o : 40
c. Setelah diencerkan suntik kelinci secara intraperitonial dan dibiarkan selama + 30 menit.
d. Kemudian diukur suhu demam dari tiap-tiap kelinci dengan termometer rectal.
e. Tiap-tiap kelinci diberi sediaan sesuai kelompok perlakuan melalui oral dengan menggunakan spoit oral yaitu:
Ø Kelompok I diberikan air kelapa hijau 10 % sesuai volume pemberian
Ø Kelompok II diberikan air kelapa hijau 50% sesuai volume pemberian
Ø Kelompok III diberikan air kelapa hijau 100 % sesuai volume pemberian
Ø Kelompok IV diberikan paracetamol sesuai volume pemberian
f. Dilakukan pengukuran suhu tubuh masing-masing kelinci dengan interval waktu 30, 60, 90 dan 120 menit,
g. Dicatat semua hasil perlakuan.
J. Diagram Alir
| Kelapa Hijau (Dibelah) |
| Kelinci |
| Pemeriksaan |
| Dipuasakan |
| Penimbangan |
| Diambil Air Kelapa |
| Analisis data |
| Perlakuan pada kelinci |
| Pengukuran suhu awal
|
| Pemberian vaksin
|
| Pengukuran suhu demam |
| I Parasetamol tablet
|
| II Air kelapa hijau 10% v/v
|
| Pengukuran suhu kelinci pada menit 30, 60, 90, 120
|
| Hasil |
| Kosentrasi 10%, 50%, 100%,
|
| III Air kelapa hijau 50% v/v |
| IV Air kelapa hijau 100% v/v |
| Pembahasan |
| Kesimpulan |
Gambar 2. Skema Diagram Alir
K. Analisis Data
1. Jenis data
a. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil penelitian.
b. Data sekunder yaitu data yang berasal dari literatur yang
mendukung penelitian.
2. Pengumpulan Data
Data penelitian ini diperoleh dari hasil efek antipiretik dari air kelapa hijau menggunakan hewan uji kelinci.
3. Pengolahan Data
Pengolahan data secara statistik dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan uji anova dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
4. Penyajian Data
Data yang akan dianalisa disajikan dalam bentuk tabel kemudian dijabarkan dalam bentuk narasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil perlakuan uji antipiretik air kelapa hijau pada hewan coba kelinci yang telah didemamkan dengan vaksin dapat dilihat sebagai berikut :
| Sediaan | Replikasi | Berat | Volume | Suhu Awal | Suhu demam | Pengukuran suhu menit ke- |
| ||||
| badan (Kg) | pemberian (mL) | 30 | 60 | 90 | 120 |
| |||||
| PCT | 1 | 1,5 | 12 | 37,0 | 41,0 | 39,0 | 38,0 | 37,0 | 37,0 |
| |
| 2 | 1,5 | 12 | 38,0 | 40,0 | 39,0 | 36,0 | 38,0 | 37,0 |
| ||
| 3 | 1,8 | 14,4 | 38,0 | 40,0 | 39,0 | 38,0 | 37,0 | 36,0 |
| ||
| Σ | 4,8 | 38,4 | 113,0 | 121,0 | 117,0 | 112,0 | 112,0 | 110,0 |
| ||
| Rata – Rata | 1,6 | 12,8 | 37,7 | 40,3 | 39,0 | 37,3 | 37,3 | 36,7 |
| ||
| Air Kelapa 10% | 1 | 1,7 | 13,6 | 37,0 | 40,0 | 39,0 | 38,0 | 37,0 | 37,0 |
| |
| 2 | 1,4 | 11,2 | 37,0 | 40,0 | 39,0 | 38,0 | 38,0 | 38,0 |
| ||
| 3 | 1,3 | 12 | 37,0 | 39,0 | 39,0 | 38,0 | 37,0 | 37,0 |
| ||
| Σ | 4,4 | 36,8 | 111,0 | 119,0 | 117,0 | 114,0 | 112,0 | 112,0 |
| ||
| Rata - Rata | 1,5 | 12,3 | 37,0 | 39,7 | 39,0 | 38,0 | 37,3 | 37,3 |
| ||
| Air Kelapa 50% | 1 | 1,5 | 12 | 37,0 | 40,0 | 38,0 | 38,0 | 37,0 | 36,0 |
| |
| 2 | 1,5 | 12 | 37,0 | 41,0 | 39,0 | 38,0 | 38,0 | 37,0 |
| ||
| 3 | 1,4 | 11,2 | 37,0 | 41,0 | 40,0 | 37,0 | 38,0 | 37,0 |
| ||
| Σ | 4,4 | 35,2 | 111,0 | 122,0 | 117,0 | 113,0 | 113,0 | 110,0 |
| ||
| Rata - Rata | 1,5 | 11,7 | 37,0 | 40,7 | 39,0 | 37,7 | 37,7 | 36,7 |
| ||
| Air Kelapa 100% | 1 | 1,4 | 11,2 | 37,0 | 40,0 | 39,0 | 38,0 | 37,0 | 37,0 |
| |
| 2 | 1,5 | 12 | 38,0 | 40,0 | 39,0 | 37,0 | 37,0 | 36,0 |
| ||
| 3 | 1,7 | 13,6 | 37,0 | 41,0 | 40,0 | 39,0 | 38,0 | 37,0 |
| ||
| Σ | 4,6 | 36,8 | 112,0 | 121,0 | 118,0 | 114,0 | 112,0 | 110,0 |
| ||
| Rata - Rata | 1,5 | 12,3 | 37,3 | 40,3 | 39,3 | 38,0 | 37,3 | 36,7 |
| ||
Tabel 2. Hasil Pengukuran Suhu Normal, Suhu Demam dan Suhu Setelah Perlakuan Pada Kelinci
Sumber : Data diperoleh dari hasil penelitian.
Dari data hasil penelitian diatas dapat dilihat bahwa frekuensi penurunan suhu dari masing-masing perlakukan berbeda-beda. Adapun rata-rata penurunan suhu pada setiap perlakuan sebagai berikut :
Tabel 3. Hasil Rata-rata Penurunan Suhu dari masing-masing Perlakuan terhadap Kelinci
| N | Air Kelapa Hijau | Suspensi Parasetamol | Total Kelompok | ||
| 100% | 50% | 10% |
|
| |
| 1
2
3 | 3,0◦C 4,0◦C 4,0◦C | 4,0◦C 4,0◦C 4,0◦C | 3,0◦C 2,0◦C 2,0◦C | 4,0◦C 3,0◦C 4,0◦C | 14,0◦C 13,0◦C 14,0◦C |
| Z | 11,0◦C | 12,0◦C | 7,0◦C | 11,0◦C | 41,0◦C |
Dari data hasil rata-rata penurunan suhu dapat diperoleh hasil ke
naikan suhu tubuh dan penurunan suhu tubuh dari masing-masing perlakuan.
Tabel 4. Frekuensi kenaikan dan penurunan suhu masing-masing perlakuan
| Perlakuan | Frekuensi | Berat kelinci | Suhu normal | Suhu demam | Kenaikkan suhu (oC) | Suhu setelah perlakuan | Penurunan suhu (oC) |
|
| PCT | 1
2
3 | 1,5
1,5
1,8 | 37,0◦C 38,0◦C 38,0◦C | 41,0◦C 40,0◦C 40,0◦C | 4,0◦C 2,0◦C 2,0◦C | 37,0◦C 37,0◦C 36,0◦C | 4,0◦C 3,0◦C 4,0◦C |
|
| Rata-rata | 1,6 | 37,7◦C | 40,3◦C | 2,3 ◦C | 36,7◦C | 3,7 ◦C |
| |
| Air Kelapa 10% | 1
2
3 | 1,7
1,4
1,3 | 37,◦C 37,0◦C 37,0◦C | 40,0◦C 40,0◦C 39,0◦C | 3,0◦C 3,0◦C 2,0◦C | 37,0◦C 38,0◦C 37,0◦C | 3,0◦C 2,0◦C 2,0◦C |
|
| Rata-rata | 1,5 | 37,◦C | 39,7◦C | 2,7◦C | 37,3◦C | 2,3◦C |
| |
| Air Kelapa 50% | 1
2
3 | 1,5
1,5
1,4 | 37,0◦C 37,0◦C 37,0◦C | 40,0◦C 39,0◦C 39,0◦C | 3,0◦C 2,0◦C 2,0◦C | 36,0◦C 37,0◦C 37,0◦C | 4,0◦C 4,0◦C 4,0 ◦C |
|
| Rata-rata | 1,5 | 37,0◦C | 40,7◦C | 2,3◦C | 36,7◦C | 4,0◦C |
| |
| Air Kelapa 100% | 1
2
3 | 1,4
1,5
1,7 | 37,0◦C 38,0◦C 37,0◦C | 39,0◦C 40,0◦C 40,0◦C | 2,0◦C 2,0◦C 3,0◦C | 37,0◦C 36,0◦C 37,0◦C | 3,0◦C 4,0◦C 4,0◦C |
|
| Rata-rata | 1,5 | 37,3◦C | 40,3◦C | 2,3◦C | 36,7◦C | 3,7◦C |
| |
Gambar 3. Diagram frekuensi penurunan suhu pada setiap perlakuan
Gambar 4. Persentase penurunan suhu pada setiap perlakuan
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian efek antipiretik pada air kelapa hijau (Cocos nucifera. L) terhadap hewan coba kelinci yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Akademi Farmasi Bina Husada Kendari diperoleh efektifitas antipiretik dari masing-masing konsentrasi air kelapa hijau dan juga paracetamol pada suhu demam kelinci.
Air kelapa memiliki berbagai macam khasiat obat yang salah satunya adalah sebagai penurun panas (demam). Air kelapa belum diketahui khasiatnya secara ilmiah sebagai anti piretik namun tanaman ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk penurun panas. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian secara lmiah untuk mengetahui khasiat obat yang dimiliki air kelapa ini baik sebagai antipiretik maupun khasiat lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan seberapa besar efek antipiretik yang dimiliki oleh air kelapa dengan menggunakan parasetamol sebagai kontrol.
Dalam teknik pengujian, dilakukan pemeriksaan dan penimbangan berat badan kelinci yang telah dipuasakan untuk menentukan dosis pemberian pada masing-masing kelinci. Kemudian dilakukan pengukuran suhu awal kelinci dan setiap kelinci disuntikkan dengan 1 mL vaksin yang telah diencerkan dengan tujuan menurunkan suhu tubuh (demam) dan didiamkan selama 30-60 menit hingga semua kelinci menjadi demam dan dilakukan pengukuran suhu demam dari setiap kelinci tersebut. Langkah selanjutnya yakni pemberian oral paracetamol dan air kelapa hijau dengan konsentrasi 10%, 50% dan 100% pada kelinci, setiap konsentrasi maupun paracetamol diberikan kepada 3 kelinci dengan volume pemberian yang sesuai dengan berat badan masing-masing kelinci.
Seperti yang dijelaskan di atas sebelum kelinci di berikan masing-masing perlakuan, kelinci tersebut diberikan vaksin terlebih dahulu dengan tujuan menaikkan suhu tubuh kelinci (demam). Adapun mekanisme kerja vaksin dalam menaikkan suhu tubuh yaitu vaksin melepaskan pirogen eksogen ke dalam tubuh yang bereaksi pada pusat pengatur suhu (hipotalamus) dengan cara merangsang pelepasan prostaglandin yang dapat mempengaruhi sistem pengaturan otonom dan akibatnya terjadi vasokontriksi sehingga pengeluaran panas menurun dan terjadilah demam.
Dalam penelitian ini parasetamol digunakan sebagai kontrol dengan mekanisme kerjanya yang menekan pirogen endogen dengan menghambat sintesis prostaglandin dan proses vasokontriksi juga terhambat dan terjadi vasodilatasi sehingga pengeluaran panas dari dalam tubuh kembali normal.
Untuk mengamati efektivitas dari masing-masing perlakuan dalam penelitian ini maka setelah pemberian secara oral air kelapa hijau dan paracetamol terhadap kelinci dilakukan pengukuran suhu melalui rectal pada interval waktu 30, 60, 90 dan 120 menit sampai suhu badan setiap kelinci kembali normal.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan memberikan efek antipiretik mulai menit ke-30 sampai menit ke-120. Penurunan suhu pada tiap perlakuan yaitu sebesar 3,7oC untuk parasetamol, 2,3oC untuk konsentrasi 10%, 4,0oC untuk konsentrasi 50% dan 3,7oC untuk konsentrasi 100%. Dari semua perlakuan yang memberikan efek antipiretik yang lebih baik adalah air kelapa 50%
Untuk melihat dan memastikan hasil dari penurunan suhu badan di atas maka dilakukan pengujian statistika dengan menggunakan uji anova, dapat dilihat pada pada lampiran
Berdasarkan hasil uji anova menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf kepercayaan a = 0,05 (95%) namun tidak nyata pada taraf kepercayaan a = 0,01 (99%). Dapat dilihat terdapat perbedaan antara pengulangan I, II dan III baik pada control paracetamol dan ketiga konsentrasi air kelapa hijau. Dengan kata lain rata-rata hasil frekuensi penurunan suhu pada keempat perlakuan tidak identik atau berbeda, kemudian diketahui bahwa F. hitung (5,37) lebih besar dibandingkan dengan F. tabel (4,76) maka hipotesis diterima.
Untuk melihat perbedaan antara setiap perlakuan dilakukan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Data yang diperoleh dri uji BNT menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara air kelapa hijau 10% dan air kelapa hijau 50% dengan selisih 1,7. Namun antara air kelapa hijau 100% dan parasetamol tidak terdapat perbedaan (non signifikan). Sehingga dari uji anova dan uji BNT diperoleh hasil bahwa air kelapa hijau yang memiliki efek antipiretik paling optimal adalah pada kosentrasi 50%.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
- Air kelapa hijau (Cocos nucifera. L) dengan konsentrasi 10%, 50% dan 100% dapat memberikan efek antipiretik terhadap hewan coba kelinci.
- Air kelapa hijau dengan kosentrasi 50% memiliki efek yang paling optimal dalam menurunkan suhu tubuh hewan coba kelinci dari ketiga konsentrasi.
B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek antipiretik ataupun khasiat lain dari air kelapa hijau (Cocos nucifera. L) untuk menambah data secara ilmiah dan memanfaatkan serta membudidayakan air kelapa sebagai tanaman berkhasiat obat.